Terkadang mempercayai bahwa seseorang terlahir dengan bakat keberuntungan tinggi adalah sesuatu yang sulit. Namun kali ini aku belajar bahwa keberuntungan, lebih tepatnya takdir dan campur tangan jemari-jemari tak terlihat, adalah sesuatu yang bisa terjadi. Aku belajar bahwa keberuntungan ada karena aku mengalami ketidakberuntungan.
Lima hari yang lalu, aku menulis form permohonan transkrip nilai. Dan tadi, lima hari setelahnya, transkripku tetap tidak ada. Padahal tiap hari kusempatkan untuk mengecek. Alangkah malangnya, justru di hari terakhir pendaftaran asisten dosen anatomi, transkripku tidak ada. Padahal transkrip orang lain yang mengajukan setelahku, ada. Padahal setiap hari aku mengeceknya namun besok-besok terus jawabannya.
Sedih sekali rasanya. Seolah-olah aku kalah bahkan sebelum bertanding. Seolah-olah ada sesuatu di luar kekuasaanku yang membatalkan usahaku.
Yah. Mungkin aku harus mengubah haluan dan tujuan. Mungkin aku harus introspeksi diri. Mungkin asisten dosen anatomi bukanlah takdirku. Maybe i was not born for it.
Dan ketika aku mencoba lagi, menanyakan kepada pihak pencetak transkrip, petugas rutinnya sudah pulang. Olala. .
Malangnya nasibku.
Keberuntungan vs ketidakberuntungan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 comments:
Post a Comment