Aku bisa bercerita mengenai berbagai benda yang ada di sekitarku. Tapi untuk sesuatu yang kuanggap paling berharga, rupanya ia berada nun jauh di sana. Di Jogja. Bantul. Samparan. Di rumah setengah jadi yang bercat hijau. Rumah itu yang kudatangi setiap hari, dulu. Tapi sekarang hanya beberapa kali dalam sebulan, kadang sekali, kadang dua kali, tak lebih. Di sana tinggal orang-orang yang kusayang, dengan separuh hidupku. Hingga mengingat mereka saja sudah membulirkan anak sungai di mataku.
Tadi aku dan kakakku mengobrol lewat media sosial. Seperti biasa, kami bertukar cerita. Kakakku yang tangguh, kuat, dan tetap penuh jenaka. Ia mengeluh sembari berkelakar, kalau wajahnya sekarang seperti peyek kedele. Aku ngakak sekali pas dia bilang kalimat itu. Lalu dia memintaku meminjam garpu tala. Awalnya aku bingung, what's for? Ujian kah? Aku tak kuasa meminjam, berhubung aku belum pernah stase tht, dan ancaman sanksi lain. Ternyata ini ada hubungannya dengan bidadariku, ibu. Akhir2 ini pendengaran ibu tampaknya berkurang. Karena kakakku bilang, terkadang ibu tidak dengar jika diajak berkomunikasi. Langsung pikiranku kembali ke beberapa jam lalu, waktu aku sms ibu, bilang aku akan pulang karena uang saku habis. Rasanya sediiih sekali. Kurang ajar banget aku sebagai anak. Kasian ibuku, disms hanya untuk minta uang.
Lalu kakakku bercerita lagi. Ia mengeluhkan sanyo di rumah kami yang berisiknya keterlaluan. Duh, rasanya ingin kupeluk kakakku, membesarkan hatinya, karena ia lebih kuat daripada aku. Ia tetap tegak di rumah kami, bertahan di sana, sementara aku kabur ke negeri orang. Aku berkelakar, ditutup pakai ember, lalu disumpal saja. Kakakku menyahut, sudah kok. Malah embernya goyang dombret. Sanyonya getar, embernya tambah getar ga karuan. Aku ngakak lagi. Lalu kusarankan untuk mengganti saja sanyo itu. Memang kasihan juga telinga, apalagi ada adek yang masih kecil, jangan sampai bising itu mengganggu pertumbuhan organ pendengarannya. Kakakku menjawab, sudah. Aku sudah bilang ke bapak. Harganya 410ribu. Tapi gak tau itu cocok atau ga sama peralatan air yang ada di rumah. Tapi kata bapak, bapak belum punya uang.
Deg. Trenyuh sekali rasanya. Uang segitu di tabunganku jelas ada. Kasian keluargaku. Kapan aku bisa berbalik memberi, bukannya meminta terus seperti selama ini?
Mungkin besok siang ketika aku pulang aku bisa melakukan sesuatu mengenai sanyo itu. Semoga saja.
Ya Allah, lindungilah belahan jiwaku yang ada di rumah. Jagalah mereka. Berilah mereka kebahagiaan dan kecukupan. Aamiiin.
My most precious world
5:24 AM |
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 comments:
Post a Comment